Presiden Iran Tuntut AS Minta Maaf

TEHERAN, (PRLM).- Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, menyambut kemungkinan perubahan dalam politik luar negeri Amerika Serikat (AS), tetapi menuntut permintaan maaf atas "kejahatan-kejahatan" AS di masa lalu terhadap Iran.

"Amerika Serikat menghadang bangsa Iran dalam 60 tahun terakhir. Mereka yang berbicara tentang perubahan harus meminta maaf kepada bangsa Iran dan mencoba mengatasi kejahatan masa lalu mereka," kata Ahmadinejad dalam konferensi pers di Khermenshah, di bagian barat Iran.

Presiden baru AS Barack Obama menawarkan untuk mengulur tangan jika Iran "tidak lagi mengepalkan tinju". Obama membahas kemungkinan diperlunaknya politik negara Amerika terhadap Iran dalam wawancara yang direkam dengan salah satu jaringan televisi Arab.

"Saat mereka mengatakan 'kami ingin menciptakan perubahan", perubahan itu bisa terjadi dalam dua cara. Pertama adalah perubahan mendasar dan efektif. Kedua, perubahan taktik. Sangat jelas bahwa, jika makna perubahan adalah yang kedua, ini akan segera diungkapkan," kata Ahmadinejad, seperti dikutip BBC.

Dalam pidato yang disiarkan secara langsung di televisi Iran, Ahmadinejad mengatakan AS harus menarik dukungan untuk Israel dan meminta maaf atas tindakan masa lalu terhadap Iran. Dia juga mengecam yang dia sebut arogansi pemerintahan Bush.
(Pikiran Rakyat)

Ratu Elizabeth II Lolos dari Maut

SYDNEY, (PRLM).-Ratu Inggris Elizabeth II luput dari upaya pembunuhan di Australia 40 tahun lalu setelah kereta yang ditumpanginya berusaha digelincirkan di kawasan perbukitan di dekat Sydney. Rencana pembunuhan itu diungkapkan oleh mantan detektif Inggris, Cliff McHardy, Rabu (28/1).

McHardy mengungkapkan, ketika itu, 29 April 1970, jalur lintasan kereta yang akan dilewati oleh Ratu Elizabeth beserta suaminya Pangeran Philip ke Kota Orange dihalangi oleh potongan kayu besar.

Kereta kerajaan itu menghantam potongan kayu di Bowenfels, Blue Mountains, sekitar 150 kilometer dari barat laut Sydney, namun tidak tergelincir. Ketika itu kereta sudah berjalan sangat lambat. "Mereka (perencana pembunuhan-red.) menempatkan sekitar enam atau tujuh potongan kayu besar dengan panjang sekitar dua meter lebih," kata McHardy yang kini berusia 81 tahun kepada radio komersial Australia. Kereta kerajaan itu menghantam dan menyeret potongan-potongan kayu ke arah stasiun kereta di Bowenfels.

Pakar spesialis kereta kepada polisi pada saat itu mengatakan, Rabu Elizabeth selamat dari bencana karena kereta yang ditumpangnya tidak berjalan dengan kecepatan penuh. "Menurut para pakar, jika ia (masinis-red.) menjalankan kereta dengan kecepatan maksimum, ia sudah pasti akan tergelincir," kata McHardy.
(Pikiran Rakyat)

Copyright © 2008 - Nasr-Blog News - is proudly powered by Blogger
Blogger Template